Seminar Marketing In Turbelent Times, Philip Kotler

Seminar Marketing In Turbelent Times, Philip Kotler

Rabu, 27 Mei 2009, Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

1. Evolusi Marketing, dari Transaksi ke Kolaborasi

Sama seperti bidang lain, dunia marketing pun mengalami evolusi. “Pada tahun 1950-an tipenya marketing transaksi, tahun 1980-an marketing relationship dan pada tahun 2000 sampai sekarang marketing kolaborasi,” kata Philip Kotler saat Seminar Marketing in Turbelent Times. Marketing transaksi yang terjadi tahun 1950-an memiliki ciri banyak perusahaan terlibat dalam transaksi di pasar saham, sebagai tempat yang paling bernilai. Kedua, pembelinya pasif. Mereka banyak ditargetkan dengan penawaran-penawaran. Ketiga, konsep perusahaannya menciptakan nilai untuk konsumen. “Berikutnya, interaksi konsumennya elicit needs dan solicit feedback,” ungkap Philip. Sementara ciri marketing relationship antara lain, pertama, hubungan antarkonsumen berlaku untuk jangka panjang. Kedua, pasar adalah tempat di mana banyak nilai ditampilkan. Ketiga, portofolio dari bentuk relasi akan bisa diolah. Keempat, mencoba menarik, mengembangkan dan memelihara keuntungan dari konsumen. Kelima, mengamati konsumen dan mempelajari serta belajar menyesuaikan diri dengan keinginan konsumen. Lalu bagaimana wajah dunia marketing sejak tahun 2000 hingga sekarang? Hal pertama ditunjukkan dengan wajah pasar sebagai tempat berkumpulnya nilai-nilai yang disepakati dengan banyak dialog. Kedua, pengalaman bersama untuk mencipta. Ketiga, mengikat konsumen untuk menciptakan nilai yang unik. Dan terakhir, melakukan dialog aktif dengan lonsumen dan komunitasnya

2. Wajah Marketing Zaman Ini

Ada banyak perubahan dalam dunia marketing jika ditelusuri dari tahun 1950-an hingga sekarang. “Dulu marketing dilakukan oleh tenaga marketing, tapi sekarang semua orang bisa melakukannya,” kata Philip Kotler.

Saat ini membangun brand tidak lagi mesti dari iklan tapi ditentukan pada dominasi dan kekuatan komunikasi. Dalam sisi penjualan, produk tidak lagi dijual lewat toko, tetapi secara on line. Berikutnya, kalau dulu produsen menjual produk untuk semua orang sekarang terkonsentrasi kepada perusahaan yang punya target pasar yang jelas. Pola pikir juga berubah, saat ini pola pikirnya global dan lokal, tidak seperti dulu yang hanya berpikir lokal saja. Dan yang penting marketing zaman sekarang memikirkan betapa berharganya konsumen untuk jangka panjang dengan sistem koneksi dan kolaborasi

 

3. Inilah Chaotic Management System ala Philip Kotler

Resesi bakal menghantui negeri kita hingga 10 tahun ke depan. Berikut beberapa cara menghadapinya (chaotic management system) menurut Bapak Marketing Dunia, Philip Kotler yaitu :

1. Amankan bagian keuntungan pasar perusahaan Anda dari segmen konsumen.

2. Melakukan penelitian terhadap konsumen dengan lebih sering. “Karena apa yang mereka butuhkan dan inginkan selalu berubah,” ungkap Philip.

3. Meminimalkan biaya perawatan.

4. Fokus pada pemasaran.

5. Jangan berikan diskon pada produk andalan.

6. Menghentikan program yang tidak berjalan baik

 

4. Kiat Menjalankan Marketing Zaman Ini

Menghadapi perubahan yang berarti di zaman ini, teknik pemasaran juga mesti memperhatikan beberapa hal penting.

“Anda harus lebih fokus budaya setempat, harus punya penghargaan yang lebih tinggi terhadap nilai-nilai yang berlaku,” kata Philip Kotler, Selain itu, ada 7 kiat yang layak diperhatikan menurut Kotler, antara lain:

1. Perusahaan mesti memberikan pelayan yang terbaik

2. Harus menjual pengalaman, emosi dan karya otentik

3. Harus membangun hubungan yang baik pada konsumen

4. Harus punya relasi dengan media, blogg, dan situs-situs pertemanan yang melibatkan banyak orang atau komunitas

5. Harus mampu mengembangkan dengan cepat sistem dan perencanaan

6. Harus mampu mengukur hasil-hasil dan akuntabilitas perusahaan

7. Harus menyeimbangkan penghargaan kepada para pemegang saham

 

5. Philip Kotler: Think Customers and You’ll Be Save

Mengakhiri seminar sehari bertajuk “Marketing in Turbulent Times” pada hari Rabu (27/5), Prof Philip Kotler, yang dijuluki Bapak Marketing Modern, memberikan nasihatnya kepada para pebisnis di Indonesia: “Think customers and you’ll be save“. Artinya kurang lebih, rengkuhlah para pelanggan Anda supaya bisnis Anda bisa tetap berlangsung baik.

Seminar di Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, dan diselenggarakan atas kerja sama Kompas Gramedia, Markplus Inc, dan BRI Prioritas itu berlangsung menarik. Kotler di penghujung seminar menjelaskan masa depan marketing yang akan ditandai dengan kolaborasi antara produser dan seluruh stakeholder, termasuk pelanggan tadi.

Collaborative marketing antara lain ditandai dengan co-created experiences,” kata Kotler. Ia menjelaskan, keterlibatan pelanggan dalam menghasilkan produk yang lebih baik menjadi bagian penting dari model pemasaran masa kini.Ia mencontohkan tentang pelibatan komunitas sepeda motor. Mereka diundang oleh perusahaan tertentu untuk memberikan sumbangan pemikiran guna memperbaiki produk motor yang menjadi idola mereka itu.

“Belum semua perusahaan memasuki collaborative marketing secara utuh,” ujarnya. Sebagian baru memasuki fase relationship marketing, yang sifatnya lebih menjaga hubungan antara produsen dengan konsumen. Namun ini masih lebih baik daripada sekedar transactional marketing, yang muncul pada era 50-an.

Kepada ratusan hadirin yang tampak betah mengikuti seminar dari pagi hingga petang itu, Kotler menjelaskan evolusi marketing mulai dari era 50-an sampai era 2000-an, yang ia sebut financially-driven marketing. Masing-masing era menciptakan istilah tersendiri dalam dunia marketing, yang berlaku baik pada masanya. Tetapi selayaknya sebuah evolusi, makin ke sini makin kompleks sejalan dengan kemajuan ekonomi dan industri komunikasi.

Dalam bahasa Inggrisnya yang sangat jelas dan tidak rumit itu, Kotler, yang hari ini berusia 78 tahun, itu merumuskan pola marketing masa depan itu sebagai Marketing 3.0, yang bukunya segera diluncurkan.

Marketing nantinya tidak hanya menyentuh pikiran dan hati pelanggan, tetapi juga harus sampai pada penciptaan semangat (spirit) di antara para pelanggan. Sehingga, suatu perusahaan tidak hanya mampu membuat sekadar lebih baik atau berbeda dengan kompetitornya, tetapi juga bahkan mampu membuat perbedaan.

Kotler malam ini menghadiri jamuan makan malam (gala dinner) yang diselenggarakan oleh Kementerian Budpar. Pada kesempatan itu, Kotler akan diangkat oleh Pemerintah Indonesia sebagai Dubes Pariwisata Indonesia.

Sources :

www.kompas.com

%d bloggers like this: